TEKNIK MESIN
Rabu, 05 April 2017
jenis jenis pahat mesin bubut
Pahat bubut
rata kiri memilki sudut baji 55º, pada umumnya digunakan untuk pembubutan rata
memanjang yang pemakanannya dimulai dari kiri ke arah kanan mendekati posisi
kepala lepas.
a)
pahat
kiri
Selain
pahat bubut luar, pada proses pembubutan juga sering menggunakan pahat bubut
dalam. Pahat jenis ini digunakan untuk membubut bagian dalam atau memperbesar
lubang yang sebelumnya telah dikerjakan dengan mata bor. Bentuknya juga
bermacam-macam dapat berupa pahat potong, pahat alur ataupun pahat ulir, ada
yang diikat pada tangkai pahat. Bentuk ada yang khusus sehingga tidak diperlukan
tangkai pahat. Contoh pemakaian pahat bubut dalam ketika memperbesar lubang dan
membubut rata bagian dalam.
.
.
.
Merupakan pahat potong yang sangat keras yang merupakan hasil proses sintering serbuk intan tiruan dengan pengikat Co (5%-10%). Hot hardness sangat tinggi dan tahan terhadap deformasi plastis. Sifat ini ditentukan oleh besar butir intan serta prosentase dan komposisi material pengikat. Karena intan pada temperatur tinggi akan berubah menjadi grafit dan mudah terdifusi dengan atom besi, maka pahat intan tidak dapat di gunakan untuk memotong bahan yang mengadung besi (ferros). Cocok untuk “ultra high precision & mirror finish cutting” bagi benda kerja nonferro (Al Alloys, Cu Alloys, plastics, rubber).
cara mengasah pahat
Cara Mengasah Pahat Bubut
Meskipun
dalam postingan sebelumnya kita tahu bahwa kita bisa membeli pahat
bubut yang siap pakai,namun cara mengasah pahat bubut adalah pelajaran
yang harus kita kuasai saat memulai belajar mesin bubut.
Mengasah
pahat adalah bagian dari tekhnik dan juga bagian dari seni. Dalam
tutorial mesin bubut kali ini yang kita pelajari adalah mengasah pahat
bubut HSS. Pahat bubut HSS dijual dalam keadaan blank(belum dibuat sisi
potongnya). Ukuran yang tersedia biasanya mulai dari 5/16",3/8",1/2"
dst (penampang) dan panjangnya 2",4",6"dst.
![]() |
| Pahat HSS |
Ada empat langkah yang harus ditempuh untuk membuat sebuah pahat bubut muka kanan, yang akan kita pakai contoh dalam kasus mengasah pahat HSS kali ini,yaitu:
- menggerinda di bagian ujung
- menggerinda sisi kirinya
- menggerinda sisi atasnya
- membulatkan ujungnya
![]() |
| model yang menunjukkan bagian yang digerinda |
![]() |
| langkah 1.a |
![]() |
| langkah 1.b |
![]() |
| pahat menjadi panas |
![]() |
| pendinginan |
Di bawah ini adalah gambar setelah proses penggerindaan pertama.
![]() |
| langkah 1.c |
![]() |
| langkah 2.a |
![]() |
| langkah 2.b |
![]() |
| langkah 2.c |
![]() |
| langkah 3.a |
![]() |
| langkah 4.a |
![]() |
| langkah 4.b |
![]() |
| hasil akhir |
![]() |
| pemakaian |
rumus mesin frais
Kondisi
Pemotongan dalam Frais
dimana
: v = kecepatan potong (mm/min)
Waktu
pemesinan (Tm) yang dibutuhkan dalam operasi frais bila panjang benda kerja (L) adalah:
dimana : A = jarak
untuk mencapai kedalaman potong penuh, (mm);
Waktu
pemesinan, Tm (menit),
yang dibutuhkan dalam penggurdian lubang buntu dapat ditentukan
dengan persamaan :
dimana
: d = kedalaman lubang bendakerja, (mm).
Kecepatan
potong ditentukan pada diameter luar pemotong frais, yang dapat dikonversikan
dengan kecepatan putar spindel, N, dinyatakan
dalam rev./min. dengan persamaan
sebagai berikut :
D
= diameter luar pemotong frais (mm).
Hantaran
(f) dalam frais merupakan hantaran dari setiap gigi pemotong, disebut beban
serpihan (chip load), dinyatakan dalam (mm/gigi). Hantaran ini dapat
dikonversikan kedalam kecepatan hantaran (fr) dalam (mm/min.) dengan memperhitungkan
kecepatan spindle (v) dan jumlah gigi pemotong (nt):
Untuk
operasi frais selubung, ditunjukkan dalam gambar berikut ini.
Gambar Pandangan
samping masuknya pemotong ke dalam benda kerja
pada operasi
frais selubung
dimana : L = panjang
bendakerja, (mm),
A = jarak untuk
mencapai kedalaman potong penuh, (mm).
Bila
d = kedalaman potong (mm) dan D = diameter luar pemotong,(mm), maka dapat ditentukan:
Untuk operasi frais muka, ditunjukkan
dalam gambar berikut ini.
Gambar
Pandangan atas masuknya pemotong ke dalam bendakerja
pada
operasi frais muka
Terdapat
dua kemungkinan :
Bila
posisi pemotong berada pada tengah-tengah bendakerja (gambar.a), maka:
O = jarak
setelah meninggalkan bendakerja, (mm);
D = diameter pemotong, (mm).
Bila
posisi pemotong berada pada salah satu sisi bendakerja, maka :
dimana : w = lebar potong,
(mm).
Kondisi
Pemotongan dalam Penggurdian
Kecepatan
potong dalam operasi penggurdian adalah kecepatan permukaan pada diameter luar
gurdi. Bila N adalah kecepatan putar
dari spindel dalam rev./min (rpm)., dapat dituliskan persamaan :
dimana
: v = kecepatan potong, (mm/min);
D = diameter
gurdi, (mm)
Hantaran,
f,
pada proses penggurdian dinyatakan dalam (mm/rev). Hantaran ini dapat
dikonversikan kedalam kecepatan hantaran, fr
dalam (mm/min.) :
Lubang
gurdi dapat berupa lubang tembus (through
hole) atau lubang buntu (blind hole)
seperti ditunjukkan dalam gambar 9.10. Waktu pemesinan, Tm (menit), yang dibutuhkan dalam penggurdian lubang
tembus dapat ditentukan dengan persamaan :
dimana
: t = ketebalan bendakerja, (mm);
A = jarak
yang diukur dari ujung gurdi sampai diameter penuh, (mm).
Bila
q
adalah sudut potong gurdi, maka A
dapat ditentukan :
Gambar Dua jenis lubang (a) lubang tembus,
(b) lubang buntu
Langganan:
Postingan (Atom)

















































